Mamak (di)CUKUP(kan)

“Apa? Demam?” tanyaku pada orang dibalik telepon yang baru saja menghubungiku.
“Iya mama Hose, ini ibu ukur sudah lewat batas merah.” jawab pengasuh anakku sederhana.
“Ada bersin bu? Beraknya gimana? Mau makan ga tadi pagi? Nyusunya kuat?” kuhujani si ibu dengan pertanyaanku.
“Enggak mama Hose. Belum berak. Tadi dia mau minum banyak, tapi makannya sisa 3 sendok. Lalu ibu pegang dia hangat jadi ibu ukur suhunya.” jawab ibu pengasuh selengkap yang ia mampu.
“Oke bu, tunggu sebentar saya kesana ya.” bergegas kututup telepon itu dan segera minta izin ke atasanku untuk pulang sebentar.

fyuh. Pikiranku berkecamuk. Demam apa lagi ini? Perasaan dia vaksinasi terakhir seminggu yang lalu dan anteng-anteng aja waktu itu; perasaan makanannya sudah dipersiapkan dan disajikan dengan bersih; perasaan kami ga ada yang lagi batuk pilek, disekitar rumah juga ga ada yang bakar sampah. Kenapa bisa demam?
Sepanjang jalan pikiranku berkelana, memikirkan segala kemungkinan penyebab demam-nya Hose kali ini.
fyuh. ternyata begini toh rasanya jadi ibu yang anaknya sedang demam.

—————— 

Hahaha, itu baru satu dari sekian episode yang kujalani 11 bulan terakhir bertumbuh bersama anakku: dia bertumbuh badannya, aku bertambah ilmunya — tepatnya ilmu untuk berserah penuh pada Sang Pemberi Buah Hati.
Banyak banget momen dimana yang dapat kulakukan hanyalah berdoa dan meminta hikmat tentang apa yang harus ku perbuat. Banyak banget tawa — menertawakan kekuatiran diri sendiri juga menertawakan tingkah lucu si Hose.
Banyak banget air mata — saat aku merasa gagal menjadi ibu, terutama saat harapan berbentur dengan fasilitas. Well, buat yang belum tau, aku tinggal di sebuah dusun di Borneo. Yang pasti ga bisa JNE Yes. Ga ada GoJek, GoFood. Ga ada Indomaret. IKEA? Apalagi. Jangan ditanya. Hahahaha.

Ditengah segala keterbatasan ilmu, keahlian, kapasitas mengasah-mengasuh-mengasihi Hose, aku telah belajar bersyukur dan berserah. Ya, kurasa itu 2 kunci yang berulang-ulang diingatkan oleh suamiku dan support system-ku dalam pengasuhan Hose. Bersyukur, karna sudah dianugerahi dan diberi kesempatan emas merawat generasi penerus di lingkungan paling kondusif yang kutau;
Berserah, karna pertumbuhan dan perkembangan Hose tidak dapat kukendalikan, dia butuh Penciptanya. Kami orangtuanya turut ikut berkarya bersama Sang Pencipta, bertanggung jawab mengasuhnya selama Hose masih dapat kami genggam dan kami tuntun.  

Meskipun begitu, tak jarang juga aku tergoda untuk mengendalikan semuanya. Mengatur ini dan itu. Merencanakan rutinitas harian Hose, acara mingguannya, bulanannya, bahkan sampai acara tahunannya — ya aku tergoda menjadi ‘ibu yang sempurna’ atas hidup Hose. Tentu saja karna aku tak mampu, ini semua membuatku kuatir dan berujung pada mengasihani diri sendiri.

Hingga akhirnya aku membaca sebuah buku yang berjudul “Mom Enough”. Buku ini merupakan kumpulan kisah pergumulan ibu-ibu dari beberapa negara tentang pergolakan batin dalam mengasuh-mengasah dan mengasihi anak mereka. Buku ini berkesan banget buatku, terlebih karena ada beberapa cerita dari seorang ibu yang tinggal jauh dari keluarga dan terbatas fasilitas — yang mirip pergumulannya dengan pergumulanku yang tinggal di ‘hutan’ Borneo.
Salah satu pernyataan yang menghiburku adalah: “Living in the jungle is like living overseas. Far from the comforts of a would be heaven on earth where there are hot showers, clothes dryers, fully stocked grocery stores, and someone else to teach piano lessons….(but now i’ve) learned to parent him with faith — dependent on the strength of the everlasting arms to hold me and my kid, even far from the comforts.”

Sederhananya, terjemahanku untuk mom enough ini adalah menjadi mamak yang selalu dicukupkan segala kebutuhannya (fisik-rohani-jiwa) oleh Pencipta yang selalu mencukupkan kebutuhan — sehingga dapat mencukupi kebutuhan sang anak.

For all mommies out there who struggle thru the same season as mine, you’re not alone dear! Be strong and courageous. Wait for the LORD; be strong and take heart and wait for Him to fullfill the deepest desire of your heart. xx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s