Anugerah MengASIhi

Masih terekam jelas dalam ingatanku saat pertama kali kusaksikan cairan kekuningan-padat-kalori (baca: kolostrum) keluar dari mammae kananku saat inisiasi menyusui dini (IMD) 8 bulan yang lalu.
Rasanya campur aduk. Hampir tidak percaya daya tarik Hose (bayi mungilku) begitu kuat sehingga dapat mengusik hormon oksitosin dan prolaktin bekerjasama mengeluarkan ASI yang selama ini tersimpan didalam duktus-duktusnya.  

Hisapannya bibirnya yang lembut mengalihkan segala rasa kesemutan — efek bius yang kurasakan disepanjang tungkaiku. Kolostrum itu terus mengalir, setetes demi setetes dihisap oleh bayiku.
Itulah nutrisi pertama yang diizinkan Tuhan untuk kuberikan bagi buah hatiku. Selintas kutertegun, menaikkan syukurku untuk anugerah mengASIhi ini. Sungguh bukan usahaku, namun pemberianNya semata.

Ternyata keberlanjutan nikmat anugerah ini perlu diperjuangkan. Tak cukup hanya dengan berhasil IMD, untuk dapat memberi yang terbaik bagi bayinya seorang ibu perlu berjerih lelah bersusah payah mengASIhi (eksklusif) — memberikan ASI bagi bayinya. 

Walaupun dididik dalam keluarga paramedis dan menempuh pendidikan formal didunia kedokteran, perjuanganku menyusui ini hampir membuatku beralih dan menyerah mengASIhi. Kenapa? aku cukup punya banyak alasan: aku keletihan, meriang karena kedua payudaraku bengkak; bayiku kuning dan kurang kuat menyusu, hasil perah ASI sangat amat sedikit seakan tidak cukup untuk kebutuhan cairan bayiku.

Kucoba bertahan menyusui, mengingat mimpiku ingin menjadi bagian dari 40% populasi ibu-ibu didunia yang berhasil menyusui eksklusif. Berbagai cara kucoba, pertama dan satu-satunya dengan mengingat-ingat semua ilmu yang kupunya: bahwa bayi masih punya persediaan lemak walau seakan ASI kurang dalam 3 hari pertama; bahwa yang terbaikkk untuk bayi adalah susu dari ibunya; bahwa kalori ASI jauh lebih tinggi dari produk susu formula; bahwa menyusui dapat mempererat ikatan batin antara ibu dan bayi; bahwa dengan menyusui dapat menghemat jumlah susu formula yang harus dibeli; bahwa ini dan itu — semua yang positif tentang ASI — namun aku tetap hampir menyerah.
Dengan tubuh yang melemah, aku tak dapat berpikir jernih. Lalu stress-pun melanda, memperberat postpartum blues yang kualami.

Sore itu air mata yang sudah diujung tak dapat kubendung, sambil terisak kusampaikan pada suamiku,
“Sayang, bolehkah kalau kita beli susu formula aja untuk Hose?” tanyaku lirih
“Enggaklah.” Jawab suamiku singkat dan tegas.
“Tapi kasian… ASI yang kuperah sedikit sekali, dan Hose masih terus haus, padahal dia nyonyot terus. Dia masih kuning. Kasian kalo dehidrasi.”
“Apa kata dunia nanti? Kamu mau bilang apa kalo ditanyain sama DSA (dokter spesialis anak) seniormu?” Tanyanya kembali sambil mengernyitkan dahi.
“Ngg…” aku terdiam. Aku ngga kepikiran suamiku bakal balas pertanyaanku dengan pertanyaan lain yang tak bisa kujawab. Aku ngga siap untuk pertanggungjawaban ini — tapi Aku juga ngga siap untuk Hose yang terancam dehidrasi.
Sambil mengusap air mataku, suamiku menghampiri, menggenggam kedua tanganku dan berkata, “Sudahlah, mommy istirahat dulu. Ngga usah perah dulu. Kompres-kompres, minum obat, lalu tidur. Nanti kalau Hose bangun ya nyusuin lagi. Sambil kita terus berdoa agar Tuhan beri kemampuan buat Hose bisa adaptasi dan nyonyot kuat. Oke?”
Aku hanya mengangguk dan mengambil posisi berbaring, mengikuti sarannya untuk beristirahat.

Tiap pagi kala sinar matahari muncul, aku bergegas siap-siap melakukan prosedur fototerapi ala-ala sambil menyanyi untuk Hose. Kurang lebih 7 hari berlalu, kuning ditubuh Hose mulai berkurang dan ia semakin kuat menyusu — diikuti dengan tubuhku yang berangsur pulih dan produksi ASI semakin meningkat. Minggu demi minggu kulewati sembari terus perah ASI setelah menyusui untuk persediaan bila nanti kembali bekerja. Tak disangka demand-supply ASIP Hose melaju beriringan dengan growth spurtnya — hingga sampai saat ini sudah 4x re-stock ASIP di freezer. 

Buatku, menyusui itu memang ngga mudah (diawal), tapi selalu layak diperjuangkan! Karena itu adalah anugerah yang Tuhan titipkan — untuk dikelola dan manfaatkan demi menghidupi buah hati yang Tuhan berikan.
Terkadang kita menyia-nyiakan anugerah yang Tuhan berikan, terlupa bahwa untuk mempertahankan keberlanjutan nikmat anugerah tersebut ada sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Teruntuk keluarga kecilku, Suami dan anakku, terima kasih telah mengajarkanku mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan — dan tidak menyia-nyiakannya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s