Kmaren, gue bantuin Mbak Narmi (mbak yang bertugas masak dirumah). menjelang finishing menu, tak sengaja gue ngelirik kerupuk nganggur yang belum digoreng. Gue menawarkan diri unutk menggorengnya. Mama dan Mbak Narmi setuju. Gue pun mulai menggoreng.
First step, gue masukin minyak ke panci penggorengan. sementara menunggu minyaknya panas, gue mempersiapkan koran untuk meletakkan kerupuk yang udah digoreng sebelum dimasukin ke toples. minyaknya pun mulai panasss, gue mulai masukin kerupuknya satu per satu. Di ‘oseng2′ dikit, thenthen, gue taruh di atas koran. perlahan-lahan semuanya ‘ngembang’. jadi deh!
Mulai dari kerupuk pertama sampe kerupuk terakhir, gue berikan perlakuan yang sama.
sementara menggoreng, waktu gue “mendiamkan” kerupuk (:gak mengoseng2nya), kerupuk itu gak bisa ngembang dengan cepat dan maksimal. Tapi, waktu gue ngoseng-ngoseng, kerupuk itu lebih cepat ngembang dan ngembangnya gedeeee banget bo!
well, words yang menambat dalam benak gue adalah:
Bagai Kerupuk di Tangan Sang Koki, Begitupula Mentee di Tangan Seorang Mentor
Maksimal atau enggaknya potensi mentee berada di tangan mentornya. jadi, sebagai seorang mentor, seharusnya kita bertanggung jawab atas hidup mentee kita, baik secara rohani maupun secara jasmani.
Kemaksimalan potensi mentee ada ditangan mentor. Mentors are responsible to develop and “oseng-oseng” mentees’ potency til mentees reach their Maximum Potential. so, they can be useful and IMPACT their world.
like prabowo said, “gak ada prajurit yang jelek, yang ada hanya komandan-komandan yang jelek”. yuk, jadi komandan yang keren, mentor yang mantep, so mentee kitapun mantep jugaa
be responsible!
[1 Kor 10:31]…jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.