Ini bicara hati. Hidup ini mulai dari hati. Kalo kita gak jaga hati, kehidupan gak akan memancar dari dalam diri kita. Berarti, kita gak jadi jawaban buat sekeliling kita.
Minggu sore kemarin gue pulang dari Excellent Servant Camp. Ada dua komandan yang memegang otoritas tertinggi selama Camp. ‘Dan Petrus en ‘Dan Paris. Figur komandan yang ada dalam pribadi mereka menuntut mereka untuk bertindak sebagai seorang Dominan.
4 Mei 2008, Jam tangan menunjukkan pukul 2 siang waktunya komandan, ‘Dan Paris waktu itu berdiri di pintu luar, lagi nyalamin prajurit² yang hendak ke kamar masing², mau pulang nih. Waktu gue ngelewatin ‘Dan Paris, gue nyodorin tangan, gue bilang : “Makasih ya, Dan. “
Hmm.. kejadian selanjutnya adalah, Dan Paris sembari shake my hand, dy bilang : “Iya, Esther. “ Wowh!! Keren. Dia bisa tau nama gue. Secara jumlah prajurit ada 100 orang. Dan dia tau nama gue. Berarti gue cukup terpilih. Hehehe..
tapi, sungguh deh, gue seneng.
Di Bus, gue inget lagi tentang ‘Dan Paris yang nyebut nama gue waktu gue salam dia. The Helper langsung bilang, “Nak, kalo komandan yang Cuma 2 hari bertanggung jawab atas dirimu tau namamu, apalagi komandan seumur hidupmu?”
Wow, keren! Gue langsung bersyukur banget. Dan rasa syukur itu gak berhenti sampai disitu. Gue memutuskan untuk mencintai Komandan gue yang sesungguhnya. Cinta akan Komandan akan memberikan perkenanan yang luar biasa atas hidup gue. Perkenanan Komandan akan terus watch over gue dalam pembentukan karakter gue. Dengan kasih karunia, skill dan karakter yang benar, gue bakalan bisa melayani dengan excellent sampai akhir. Yaph! Sampe gue bisa finishing well. Cihuyyy…
Di camp ini, gue belajar lagi tentang pentingnya kekuasaan. “Kalo mw breakthrough, sayangi komandan !” gitu kata Pak Budi.
‘Dan Petrus en ‘Dan Paris menjadi komandan dalam hidup gue memang cuma 2 hari. Tapi mereka penting buat gue. Mereka berdua yang nekanin bahwa setelah ESC, komandan gue tuh Bapa gue sendiri. Jadi gue musti taat sama Bapa, gue musti sayang sama Bapa. Pak Budi juga bilang, “ntar habis ESC, gak ada lagi komandan yang bakalan bunyiin peluit dan mendisiplin kamu dan nyuruh kamu ambil posisi ataupun nyoret nyawamu. Tapi, kamu punya hati nurani yang bakalan ngebawa kamu untuk tetap bertindak sebagai seorang prajurit. “
Intinya, mencintai komandan bakalan ngebawa berkat² yang luar biasa. Yang tadinya gak pernah kita bayangin, itu yang akan terjadi atas hidup kita. Untung deh, gak ada ruginya mencintai Komandan. Komandan bakalan terus negur kalo kita salah, disiplinin kita sampe kita ‘rhema’ hingga akhirnya kita bakalan menang perang bareng² Komandan. Cihuyy…
Life is to be lived fully, and when the end comes, we should be able to say – i have no regrets. so we must make each day count.
yup.. kalau komandannya Yesus Kristus kita, bakalan aman..GBU
Keep on fire to our commander Lord Jesus Christ
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Lucratively!!
beberapa waktu yang lalu gereja kami di magelang juga mengadakan ESC. menurut saya ESC adalah pengalaman awal untuk berjuang bersama komandan kita tentunya Yesus sendiri. teruslah pertahankan integritas kita sebagai seorang prajurit yang selalu taat kepada pemimpinnya. Gbu…
MAJU TERUS PRAJURIT.
BUKAN SOAL BENAR ATAU SALAH TETAPI RESPON