“Kutunggu hadirmu 6a.m.@Garden of St.Luke’s Building”

November 23, 2009


Senang. Bingung. Pikiranku berkelebat dalam tanya. Aku senang, dia ingin melakukan sebuah perubahan di kampusku dan dia memintaku untuk datang lebih awal. Ya, emang gak kira2 sih. 1 jam lebih awal dari jadwal kuliahku esok. Lumayan awal lah..

Dengan alis yang saling bertautan dan helaan nafas panjang, aku cukup menarik perhatian mbok Minah yang baru saja memberikan notes titipan ini.

George. Akrab kupanggil Josh, ya, itu nama penitip pesan ini. Dia anak seorang dekan yang baru saja lulus dari sarjana kedokteran. Sekarang lagi libur sebelum masuk ke kepaniteraan klinik.

Tanpa menoleh ke Mbok Minah, ku teruskan kebingunganku menuju kamarku di lantai 2. tak—tak—tak, begitulah terdengar suara sepatu heels-ku yang menapaki tangga kayu tua rumah ini. Sesampainya di depan kamar, aku baru ingat kalau aku belum mengucapkan terima kasih pada Mbok Minah.
“MBOOKKK.. MAKASIHHHhh yaaa!” teriakku terdengar menggelegar. Hahaha—lebay!
terdengar pula seruan dari lantai 1.
“IYAAA NONNNNN..!” balas Mbok Minah. hahaha. “Like Non, Like Mbok.” Batin ku..

Dengan bergegas, aku masuk kamar dan menghempaskan tubuhku di atas kasur dan kemudian mulai membaca2 lagi notes titipan Mbok Minah. hm..gedung Lukas? Baiklahh.. aku segera bangkit dari tempat tidur menuju ke arah lemari tua di sudut “istana”ku ini.
Ku sempatkan diriku memandang kaca. Mengatur2 rambut ku yang terurai se-bahu. (see, bahkan untuk membuka lemari aja seorang wanita menyempatkan diri untuk berkaca dan memperbaiki penampilannya).
Besok pake baju apa yaa? tanyaku pada diri sendiri.
ku bolak-balik koleksi busana kampusku dan kemudian dengan lemotnya aku baru sadar..
Ihhhh,, kenapa harus segitunya sih? Plis deh, Corina! ‘kan Cuma ketemu Josh. So what? Kagak perlu ribettt kaleee. Hahaha. Ku temukan diriku nyengir2 sendiri. OK. Pilihanku jatuh pada kaos putih dnegan tulisan kuning “sweety” ditengahnya + clana jeans coklat tua.

see you, my tomorrow! I just can’t wait to see something they call “Meta” in my Campus! Yeay! thank you Josh. Batinku..

Malam begitu cepat berlalu. Tibalah waktunya untuk sebuah perubahan yang kunantikan itu.
ku pasang alarmku 04.30 WIB. KRINGGGGG…
“brrr, dinginnnn..” aku bangun. Berdoa. Morning devotion. Sarapan. Yap! It takes 1,5h.

Sekarang pukul 5.50 WIB. Aku bergegas jalan menuju kampus yang terletak ±150m dari rumahku.
Kepagian gak ya?dingin banget nih.. pake syal ahhh.. ku ambil syal coklat-ku sebelum aku beranjak keluar kamar.

At the campus
Dari jauh ku lihat pria tinggi, besar, dan berkacamata. Ia sedang duduk di taman gedung Lukas.
Hmm. Is that George? Hah? Kok gedee banget ya? ku cubit2 tangan dan pipiku hanya untuk memastikan apakah aku sadar telah melihat George, si mantan ketua senat itu. Aku sadar! Hahaha..ternyata bukan!
itu mah pak Andre. Satpam Shift3 yang sedang bertugas. Kuhampiri dia dan kusapa.
“Pagi, Pa’Ce!” sambil kusodorkan tanganku, memberi salam ^^
“Hey! Selamat pagi, Nona!! Cepat sekali ko datang? Ta terlalu pagi kah?” dengan nada timurnya, dia balik menyapaku dengan sebuah pertanyaan.
“hehehe.. ini PaCe, saya ada janji dengan sa pu teman.” Tanpa kusadari aku telah menggunakan nada timur itu. Indah jugaa.. enak ngomongnya. Enak dengernya.
Pak Andre pun jadi merasa lebih akrab denganku. Namun sepertinya jawabanku kurang meyakinkan. Pak Andre terlihat mengernyitkan dahinya.
Ahhh. Gimana sih pak. Baiklah, aku memang gak yakin dengan kedatangan Josh pagi ini. Secara dia gak ada ngabarin apa2 lagi selain notes itu. Gak ada kabar lewat sms, gak ada telpon, gak ada facebook, apalagi friendster!

“oh, begitu kah? Oke baik, saya ke pos dulu ya!” pak Andre pun tak ingin berdebat denganku. Dia segera bergegas ke pos keramatnya.
Hh, untunglah. Mungkin dia mau mengintaiku dari pos keramatnya. Bagaimanapun dia salah seorang pahlawan di kampus ini. Banyak kasus penting yang berhasil ia ‘bersihkan’ dari kampus ini. Ya, dia memang berjasa. Tak bisa ku usir dia untuk tak mengintaiku. Bagaimanapun, ini tugasnya. Dan aku memang sepertinya telah datang terlalu pagi dari jadwal kuliahku dan sepertinya hal ini cukup membuat dia penasaran. Hahaha. Enjoy aja lagi! Aku juga gak keberatan kok di intai, lagian aku gak ngapa2in.

Eh, itu dia Josh! Jeans biru tua yang dipadukan dengan kemeja krem kotak-kotak, sneakers putih, dan tas ransel dipunggungnya membuatnya terlihat keren. Hahaha. Tak bisa ku pungkiri, dia memang keren. Ia berlari kecil menuju kearahku. Kami berjabat tangan. Dan segera duduk di kursi besi yang tadi di dudukin pak Andre.
“sendirian, Josh?” tanyaku memulai percakapan.
“ya.” Jawabnya singkat.
“so, what are we going to do?” tanyaku bersemangat.
“mm..” dia hanya terdiam sambil membenarkan posisi duduknya. Ia membuka resleting tasnya, dan kemudian menutupnya lagi.
“do you bring any sketch?” tanyaku lagi
“sketch?” dia nanya balik.
“ya.” Balasku berusaha singkat juga. Bagimanapun dengan orang cool kita harus berusaha cool.
“nope” jawabnya singkat (lagi).
“so?”
Tanya ku balik.
“no sketch.” Jawabnya.
“so?”
aku mempertahankan pertanyaan itu sebelum dijawab. Bersabar. Mencoba menahan semua semangat yang ku pendam di hati. Entahlah, sejak pagi tadi aku ngerasain palpitasi yang luarbiasa. (palpitasi: berdebar2)
“mm..” Tiba2 kurasakan genggaman tangannya.
“let’s pray.” Ajaknya.

Tanpa ba-bi-bu, kulihat josh menundukkan kepalanya. Mau gak mau, aku nurut.
“Father GOD, thank you for this Tuesday morning. We love You, GOD. Please help us to do Your will. In the name of Jesus we pray. Amen.”
Dengan segera George melepaskan genggamannya. Dan tak bersuara.
Hhh..dasar Mr.Cool!
Jam tangan menunjukkan pukul 6.15 WIB
Aku memandang awan. Bingung kenapa aku bisa sediam ini. Biasanya aku bawel banget kalo ketemu dia. Mungkinkah karena udah 1bulan gak pernah ngeliat dia. Aneh. Atau mungkin aku terlalu mencintai kampus ini sampai2 aku menahan diri demi mendengarkan ide tentang rencana ‘pengubahan’ kampus. Hh.. bingung!
George terdiam. Aku pun diam. Tak ada yang mau kalah. Aku berusaha cuek dengan kebingunganku sendiri.
Ku alihkan perhatikanku pada tumpukan diktat yang kubawa..Lengkap. hh..

Tiba2 kudengar suara George. “dua hari yang lalu Oma meninggal..” terdengar suara Josh lirih.
Lagi, aku hanya terdiam.
“gue belum bisa cerita banyak. Pastinya, gue gak bisa tahan pertanda yang udah gue simpan sejak tahun 2006 yang lalu. Gue butuh lu untuk lakukan hal ini. Ini buat kampus kita. Almamater.” Kini penjelasannya cukup panjang, meski gak lengkap.
“OK.”Jawabku. Aku gak sanggup menyusun kata. Aku memaki diriku sendiri.. kenapa aku terlalu diam??
“satu hal yang gue tau. Kita bisa mulai dengan doa. Gak ada yang perlu diubah. Gue akan berdoa. Lu juga berdoa. Tiap jam 6. Lu doa dikampus.” Kini Josh menatap gue. Meyakinkan bahwa ini satu2nya cara yang bisa kami lakukan. Karna kami sendiri bingung tentang apa yang harus berubah.
“ok. Jem 6 pagi?” tanyaku memastikan
“iya, Cor. Tapi gue gak bisa dateng tiap hari ke kampus. Gue akan berdoa dirumah. Gue harus anterin adik gue ke school selama beberapa minggu ini. Dan minggu berikutnya gue udah mulai siklus di jawa barat.” Kini Josh terlihat begitu bersemangat. Ntahlah, tak bisa ku pungkiri, akupun jadi bersemangat. Ini saatnya bergerak untuk kampusku.
“ok. Gapapa Josh. Gue akan datang. But I think, Sunday morning gak usah ya..?” pintaku.
“iya, Cor. Monday to Friday juga gak papa.” Jawab Josh.
“okay.” Terdiam lagi, kami tenggelam dalam pikiran masing.

Kulihat Josh menundukkan kepalanya. Is he praying right now? Hh? Secepat itukah? Aku pun menundukkan kepala. Kulirik Josh, ternyata ia hanya sedang memandang tanah. Kurasa, ia benar-benar tenggelam dalam pikirannya. Ku lihat jamku.

Sekarang pukul 06.30 WIB. Teman2 kampusku mulai berdatangan.
“Josh..” tegurku
“ya.”
“kalo ada apa2 jangan sungkan2 untuk hubungi gue ya. Bagaimanapun lu udah nolongin gue waktu itu.”
“ok, Cor. Thanks ya.”
“iya..”
“btw, Cor. Bentar lagi gue harus pergi, gue harus anter adik gue ke sekolah.” Jelas Josh
“oh iya2, gak papa Josh” jawabku. “mm,, berarti lu sekarang mau jemput adik lu?” kulanjutkan responku dengan pertanyaan.
“nggak. Dia udah nunggu di mobil.” Jawab Josh singkat. Tanpa ekspresi.
“hah? Bukannya tadi lu bilang kalo lu sendiri?”
“mm. maksudnya,, tadi gue sendirian ke taman ini.”
“hahaha.. jayuz juga lu! Serius2 gini lu masih bisa ketawa ya.”
Hmm..brarti ada 2 sosok yang sejak tadi mengintai kami, dong!
“hehehe.”

well, so, should we ended this one with prayer?” Tanya ku
yes, of course!” jawab Josh.
“hmm. May I lead the prayer?” tanyaku lagi
“sure..”
“mm.. tapi gak usah gandengan tangan yaa.” Pintaku polos.
“HAHAHAA..” tawa Josh pecah.
“husshh.hushhh.” begitulah ku gencarkan usahaku untuk mendiamkannya sembari menepuk sikunya.
“gak usah lah, Cor! Ngapain gandengan tangan?” Tanya Josh masih sambil terbatuk-batuk mengakhiri tawanya.
“hah? Terus yang tadi apa? Bukannya tadi gandengan tangan?” tanyaku bingung.
“ha?” dengan lemotnya, josh malah balik tanya.
“hm..Forget it! Let’s pray.” Jawabku cepat sambil menundukkan kepala. Ku simpan semua kejanggalan ini dalam hatiku. Matahari ternyata sudah mulai menghangatkan dinginnya pagi ini.

It’s 6.45WIB and I begin to pray,
“Bapa,, makasih buat penggenapan rencanaMu, makasih buat keberanian yang Engkau beri dihati kami sehingga kami mau berdoa untuk kampus kami. Makasih untuk kasut kerelaan itu. Makasih untuk Josh. Makasih untuk hari ini. Makasih untuk awal perubahan yang Engkau izinkan terjadi. Makasih karena telah memakai kami. Thanks GOD. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.”
“Bapa kami yang di Surga, dikuduskanlah namaMu…” terdengar Josh menyahut.
Ku ikuti doa Bapa kami hingga selesai. …Amin. Kami tegakkan kepala kami.

6.50 WIB
“Thanks ya, Cor.” Sambil berdiri, Josh menjabat sodoran tanganku.
“sama2, Josh.” Balasku sambil tersenyum lebar.
“hati2 di jalan ya.”
“BTW, kul jam pertama apa Cor?” tanya Josh
“patologi Anatomi.”
“well, good luck ya. Dengerin tuh Mrs.Sheela ngajar. Diperhatiin.. jangan twitter-an mulu!” tegur Josh sambil mengacak rambutku.
Akhirnya dia kembali. Hahaha.
“Ah! Iyaa,,iyaa..” jawabku sambil mengelak dari tangannya.
“Bye.”

Aku bergegas ke kelas. George ke mobilnya.

Aku senang bukan karena dia.
Tapi karena apa yang akhirnya bisa ku lakukan untuk kampusku.
Gak ada apa-apa antara Corina dan Josh. Plis deh,… ^^

Dieu dit:
“Si mon people, sur qui mon nom est invoqué,
s’humilie, prie, recherché Sa présence et se repent de ses mauvaises habitudes
Des cieux, il nous entendra Il pardonnera nos péchés.
Et il soignera leurs terres.”


RENTAN vs RESISTEN

November 7, 2009

“Kita tuh rentan banget, Meg.” begitulah statement yang gue lontarkan ke Mega sembari kami berjalan menyusuri areal parkir wisma 76 – kampus supra. hmm.. waktu menunjukkan pukul 13.30-an dan kami baru aja selesai PA hari ini.
“maksudnya rentan gimana, Ther?” tanya Mega menggubris statement gue.
“gini, Meg. kita terlalu rapuh untuk bisa memegang kendali atas hidup kita sendiri. kita gak cukup kuat untuk ngadepin ujian-ujian kehidupan sendirian. kita harus sadar dan mengakui itu bahwa sebenernya kita lemah dan nothing..” jelas gue panjang lebar.
“hm..iya ya,,” Mega pun manggut-manggut menyetujui statement gue.

yap! kita rapuh, kita rentan, kita lemah, kitalah manusia yang gak sempurna. tapiii,,kabar bahagianya adalah, kita semua sedang dalam proses pendewasaan; a process of MATURING.
kita yang tadinya rentan, terus menerus belajar ini dan itu untuk semakin resisten/kebal (bukan bebal lohh..).
resisten dalam hal ini artinya tahan uji. (water resistent=tahan air ^^)
satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa sebuah jam tangan tahan air adalah dnegan memasukkannya ke dalam air. demikianlah pula dengan hidup kita. satu-satunya cara untuk menguji bahwa kita tahan uji adalah dengan menghadapi ujian-ujian itu. waktu kita ketemu masalah, kita yang tadinya rentan bisa jadi resisten melalui proses pendewasaan itu. so, take heart. setialah. you’re on the way to become mature.

Matt.5:48
Be perfect, therefore as your heavenly Father is perfect.

(perfect ~ teleios : mature, complete)